Author: Nada Shakira

Image By: orie画集発売中

Hana adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang sangat menyayangi neneknya. Ia selalu mengunjungi rumah neneknya yang bernama Sora setiap pulang sekolah atau ketika ia sedang bertengkar dengan ibunya. Letak rumah Sora tidak jauh dari rumahnya, hanya sekitar tiga ratus meter.

Pada suatu pagi yang mendung, Hana sedang mengikuti pelajaran di sekolah seperti biasa. Namun, entah kenapa pagi itu perasaan Hana gelisah. Lalu ketika bel istirahat berbunyi, Hana langsung mengecek cell phonenya. Ia terkejut, banyak sekali panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari ibu dan ayahnya. Ketika ia membaca pesan dari ibunya, denyut jantungnya serasa terhenti, badannya membeku, dan tanpa sadar air mata menetes begitu saja dari matanya. Ia kemudian terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya. Pesan tersebut berisi bahwa Sora telah meninggal dunia di rumah sakit, yang dimana belakangan ini Sora memang masuk rumah sakit karena terjangkit virus covid-19, tetapi ia tak menyangka virus tersebut merenggut nyawa Sora secepat itu.

Emma yang merupakan sahabat Hana yang berada di sebelah Hana bingung dan panic melihat kondisi sahabatnya yang seperti itu, ia hanya bisa memeluk dan menenangkan Hana. Dan tak lama kemudian, orang tua Hana menjemputnya untuk mengikuti acara pemakaman Sora.



Hana tidak bisa melihat wajah dan menyentuh tangan Sora untuk terakhir kalinya. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan yang harus dilakukan terhadap pasien covid-19 yang meninggal dunia demi mencegah menyebarnya virus lebih luas. Hana hanya bisa melihat peti mati Sora dan proses penguburan Sora dari kejauhan. Proses pemakaman itu dilakukan dibawah cuaca yang mendung, seakan-akan langit pun ikut berduka atas kepergian Sora.

Malamnya, diadakan acara doa di rumah Sora untuk mendoakannya. Hana menghadiri acara tersebut dengan jiwa dan raga yang rapuh dan lemas. Dan terus begitu hingga hari terakhir acara.

Di hari terakhir, Hana mengelilingi rumah neneknya, dan kemudian Hana memasuki ruangan kecil yang berisi berisi barang-barang ketika Sora masih remaja. Hana melihat sebuah kalung yang berada di dalam sebuah kotak kecil tanpa tutup di atas meja, dan dia mengambilnya. Kalung itu sangat cantik, Hana sangat terkesima dengan kalung tersebut. Lalu setelah itu Hana pun keluar dari ruangan itu sambil membawa kalung itu. Ia kemudian menanyakan perihal kalung itu pada tantenya yang bernama Seina. Namun Seina tidak mengetahui apapun tentang kalung tersebut, tetapi ia mengizinkan Hana untuk dapat memiliki kalung itu. Ia pun langsung memakai kalung itu dan akan selalu memakainya.

Setelah acara doa berakhir, Hana pun pulang. Sesampainya di rumah, Hana bersiap untuk tidur. Sebelum tidur, Hana berdoa dengan penuh harap agar neneknya masih hidup. Ia memejamkan mata dan berdoa dengan bersungguh-sungguh. Namun tanpa ia sadari, kalung itu tiba-tiba bersinar tipis selama beberapa detik. Hana pun tertidur tanpa mengetahui keajaiban yang akan ia hadapi.

Beberapa hari kemudian, Hana kembali ke rumah neneknya karena dia sangat merindukan kenangannya bersama Sora. Dan dia pun tiba di depan pintu kamar neneknya. Ketika ia membuka pintu kamar neneknya, tiba-tiba kalung yang ia pakai bersinar dengan sangat terang hingga membuat Hana menutup matanya. Dan ketika ia membuka mata, ia melihat bahwa isi kamar tersebut bukanlah kamar Sora, melainkan sebuah tempat yang sangat indah. Terdapat hamparan padang rumput yang membentang luas, dan banyak bunga-bunga. Di tengah-tengah padang rumput tersebut, terdapat sebuah pohon yang sangat besar dan dibawah pohon itu terdapat sebuah rumah kecil. Cuaca di tempat tersebut sangat cerah, tetapi tidak menyengat, matahari seakan-akan dengan lembut menyinari tempat itu.

Hana memasuki tempat itu dengan ragu. Dia berjalan perlahan sambil melihat sekelilingnya. Ketika ia telah mendekati rumah kecil itu, tiba-tiba keluar seorang wanita yang tampaknya berumur sekitar tiga puluh tahun dari rumah itu. Hana dan wanita itu sama-sama terkejut akan kehadiran masing-masing.



“Oh halo, siapa namamu? Bagaimana kamu bisa sampai di tempat ini?” Tanya wanita itu.

“Nama saya Hana. Saya masuk ke tempat ini melalui pintu kamar nenek saya… Entah kau mau percaya atau tidak” Jawab Hana.

“Wow, itu agak sulit di percaya, tapi saya percaya karena saya juga sebenarnya tidak tahu mengapa saya ada di sini. Ketika saya membuka mata satu jam yang lalu, saya sudah ada di tempat ini.” Kata wanita itu.

“Nama kamu siapa?” Tanya Hana.

“Entahlah, aku tidak mengingat apapun, tetapi di pintu kamarku tertulis nama Kara, jadi kau bisa memanggilku Kara saja” Kara menjawab dengan lembut.

Hana pun hanya mengangguk menandakan ia mengerti.

Hana berada di tempat Kara selama dua jam. Dan tanpa Hana ketahui, ternyata  ada perbedaan waktu antara dunia nyata dan dunia tempat Kara berada, yang dimana dua jam di tempat Kara sama dengan empat jam di dunia nyata. Dan ternyata di dunia nyata hari sudah malam.

Hana pun bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ibu Hana yang bernama Anne terlihat sangat khawatir dan menanyakan dari mana saja Hana pergi dengan nada yang marah. Hana hanya bisa menunduk dan menjawab bahwa ia dari rumah neneknya. Anne hanya bisa menghela nafas kasar dan menasihati Hana untuk tidak pulang malam lagi. Hana hanya mengangguk dan pergi ke kamarnya.

Keesokan harinya, Hana kembali ke tempat Kara dan berujung ia selalu mengunjungi Kara setiap dia pulang sekolah. Di tempat Kara, Hana melakukan banyak aktifitas dengan Kara, dan Hana sangat bahagia berada disana.

Hari demi hari pun berlalu, tidak terasa sudah dua minggu Hana mengunjungi Kara. Namun suatu hari, ketika ia keluar dari tempat Kara, ia tidak sengaja bertemu dengan Seina di depan pintu kamar neneknya. Seina pun memberitahu Hana bahwa rumah neneknya sudah terjual dan sebulan lagi rumah tersebut akan diruntuhkan, jadi Hana tidak boleh lagi bermain ke rumah Sora. Hana terkejut mendengar berita tersebut, dan tentu saja ia tidak menerima kenyataan itu. Seina menjelaskan bahwa semua anggota keluarga besar telah setuju untuk menjual rumah Sora, dan Hana tidak bisa membantah keputusan keluarga besarnya. Dia pun pulang dengan amarah dan kesedihan yang mendalam. Hana pun bertekad untuk mencari pekerjaan agar bisa membeli rumah neneknya kembali.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Hana pergi ke berbagai tempat untuk mencari pekerjaan. Hingga akhirnya dia sampai di pasar ikan yang juga menjadi tempat pelabuhan para nelayan. Ia nekat melamar pekerjaan sebagai asisten nelayan disana. Para nelayan tersebut memikirkannya cukup lama hingga akhirnya Hana diterima untuk menjadi asisten nelayan di kapal nelayan. Hana sangat senang, dan esok hari ia sudah bisa bekerja disana setiap pulang sekolah.



Hana bekerja dengan sangat giat dan semangat. Dan tidak terasa, Hana sudah bekerja disana selama seminggu dan ia akhirnya mendapatkan gaji per minggunya. Ia pulang bekerja dengan hati yang bahagia. Sesampainya dirumah, entah mengapa perasaan Hana tiba-tiba tidak enak. Ia pun masuk dengan perlahan, dan ketika dia berjalan melewati ruang tengah, ia melihat Anne yang berdiri sambil menyilangkan tangan dengan raut wajah yang marah dan ayahnya yang bernama Danish duduk di sofa dengan raut wajah yang khawatir. Anne pun memanggil Hana, dan Hana berjalan perlahan menghadap Anne.

“Dari mana saja kamu? Jawab dengan jujur” Tanya Anne.

Hana hanya terdiam mendengar pertanyaan Anne kepada dirinya.

“Kamu bekerja dengan nelayan kan? Apakah kamu tahu betapa berbahayanya pekerjaan itu? Bagaimana jika kapal yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan? Apakah kamu tahu terkejutnya ayah dan ibu ketika mengetahui tentang pekerjaanmu itu? Kau tega membuat Ayah dan Ibu khawatir? Hah?! JAWAB HANA!” Teriak Anne dengan marah kepada Hana.

“Hana… jika kamu membutuhkan uang, kami bisa memberimu berapapun yang kamu butuhkan, kami itu orang tuamu, jadi janganlah sungkan untuk meminta bantuan pada kami” Kata Danish kepada Hana.

Hana pun menjawab dengan suara yang gemetar bahwa alasan dia bekerja adalah untuk mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah Sora kembali. Dan Anne yang mendengar hal tersebut langsung memarahi Hana.

“Astaga Hana, uang yang kamu hasilkan itu tidak seberapa dengan harga jual rumah itu, kamu tidak akan bisa membeli rumah itu kembali. Tolong berfikirlah lebih dewasa Hana” Kata Anne dengan marah.

“Ibu tidak tahu perasaanku! Aku sangat menyayangi nenek dan rumah itu. Bagaimana bisa kalian dengan mudahnya menjual rumah yang penuh kenangan itu hanya dalam waktu satu bulan setelah nenek meninggal? Apakah kalian tidak mempunyai perasaan?!” Jawab Hana dengan marah.

“HANA!” Bentak Anne mendengar perkataan Hana itu.

“Aku tidak ingin rumah nenek terjual dan dihancurkan. Aku ingin rumah itu dan nenek kembali!” Teriak Hana kepada orang tuanya dan kemudian ia lari kabur dari rumah.

Hana berlari ke rumah Sora, ia ingin segera menemui Kara dan menumpahkan semua kekesalannya pada Kara. Sesampainya disana, Hana langsung memeluk Kara dan menangis dengan keras. Kara yang bingung hanya bisa mengusap-ngusap punggung Hana untuk menenangkannya.

Setelah tenang, Hana di arahkan oleh Kara untuk istirahat di ranjangnya terlebih dahulu. Hana pun tanpa sadar tertidur di ranjang Kara karena dia merasa lelah setelah menangis dengan cukup lama. Kemudian ia terbangun karena mendengar suara teko air yang mendidih.

Hana bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Kara yang sedang sibuk di dapur. Kemudian ia duduk di salah satu kursi meja makan. Kara yang sadar bahwa Hana sudah bangun dan duduk di kursi meja makan langsung bertanya padanya.

“Apakah perasaanmu sudah lebih baik? Aku membuatkanmu pie apple dan teh melati, kau kan sangat suka itu” Kata Kara.

“Bagaimana kau tahu bahwa aku sangat suka pie apple dan teh melati?” Tanya Hana.

“Kau kan pernah mengatakannya beberapa hari yang lalu” Jawab Kara.

Hana menggeleng pelan, seingatnya ia tidak pernah mengatakan itu pada siapapun bahkan kepada orang tua ataupun sahabatnya sendiri. Ia hanya pernah mengatakan itu pada Sora.

Keheningan berlangsung selama beberapa detik, kemudian Hana pun berpikir keras dan mengatakan sesuatu dengan curiga.

“Apakah mungkin kau adalah Sora?” Tanya Hana.

Kara terdiam, ia kemudian mematikan kompor dan melepas pekerjaannya di dapur dan duduk di kursi depan Hana.

“Hana… sejujurnya setiap kali aku bersamamu, perlahan ingatanku kembali, hingga akhirnya hari ini aku sudah bisa mengingat semuanya. Dan benar bahwa aku adalah nenekmu, Sora” Jawab Sora dengan lembut dan suara yang pelan.

Hana terdiam sejenak, dan tanpa sadar air matanya menetes kembali dengan perlahan.

“Apakah kau tahu betapa terpuruknya aku ketika kau meninggalkanku? Aku selalu berdoa setiap malam berharap kau masih hidup” Jawab Hana dengan suara yang gemetar dan menangis.

“Maafkan aku, tetapi takdir tidak bisa aku hindari. Aku juga ingin terus hidup dan selalu berada disisimu, tetapi itu adalah hal yang mustahil Hana” Jawab Sora.

“Hana, aku tau sangat sulit bagimu untuk melepaskanku, tetapi kau harus bisa. Kau harus terus hidup dan mencari kebahagiaan yang lain” Timpal Sora kembali.

Hana menangis sejadi-jadinya. Sora pun memeluk Hana dan ikut menangis dengannya. Setelah mereka berdua tenang, Mereka makan pie apple dan teh melati sambil terisak dan bercerita akan banyak hal. Hana juga menceritakan penyebab ia menangis saat ke tempat Sora. Ia menceritakan semua yang telah dia alami setelah Sora pergi meninggalkannya.

Hana dan Sora menghabiskan waktu bersama dengan cukup lama. Mereka bercerita banyak hal dan melakukan banyak aktivitas bersama. Dan tidak terasa Hana sudah dua hari berada di tempat Sora. Hana pun pamit pulang untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang tuanya.

Sesampainya di depan pintu rumah, Hana terdiam sejenak dan mempersiapkan dirinya untuk segala hal yang akan terjadi ketika ia memasuki rumahnya. Hana pun masuk dengan perlahan. Anne dan Danish yang mendengar suara pintu yang terbuka langsung lari ke arah pintu depan dan menemukan Hana yang berdiri di sana. Mereka langsung memeluk Hana dan menangis. Mereka sangat mengkhawatirkan Hana karena dia sudah hilang selama empat hari.



Hana baru sadar bahwa dia telah hilang selama empat hari di dunia nyata. Hana pun segera meminta maaf kepada orang tuanya sambil menangis. Mereka bertiga pun menangis bersama dalam posisi saling berpelukan.

Hari demi hari pun berlalu, Hana dan Anne semakin dekat sejak kejadian itu. Hana menjadi lebih terbuka dan banyak bercerita pada Anne.

Lalu, tepat tujuh hari sebelum rumah Sora diruntuhkan, Hana kembali ke tempat Sora dan menghabiskan waktu dengan Sora untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya, Hana pun sudah bisa merelakan Sora untuk pergi selamanya. Ia mengucapkan kata-kata perpisahan pada Sora dengan tersenyum dan mata yang berkaca-kaca. Kemudian ia kembali ke dunia nyata dan ketika ia membuka pintu kamar Sora kembali, tempat itu sudah tiada. Tempat itu sudah kembali menjadi kamar Sora, namun kamar itu sudah menjadi ruangan yang kosong.

Sejak saat itu, Hana selalu mengunjungi makam Sora sekali seminggu dan selalu mendoakannya. Sesekali ia bercerita tentang kesehariannya pada Sora.

Di dunia ini, ada yang namanya kehidupan dan kematian. Kehidupan itu hanya sekali dan Kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari. Dalam kehidupan, manusia hidup berdampingan, saling berhubungan dan membantu satu sama lain. Ketika memiliki perbedaan atau pertentangan akan sesuatu, selesaikanlah dengan baik dan saling memaafkan, sehingga hubungan antar manusia tetap terjaga dan harmonis. Selain itu, ketika kita tidak menerima akan Kematian seseorang, maka hal itu hanya akan membuat Kehidupan kita menjadi sengsara dan dapat menimbulkan banyak masalah. Dan Hana telah belajar untuk dapat mengikhlaskan kepergian orang yang dia sayang, sehingga ia dapat terus menjalani kehidupan dengan baik dan menemukan kebahagiaannya yang lain.


Terima kasih telah membaca cerita di prekuel, kami senang kalian menjadi bagian dari kami. Jika kamu punya cerita menarik? Yuk publish ceritamu di prekuel sekarang juga melalui email berikut: hello@prekuel.com



Write A Comment

Pin It